Preman dan Sinetron
Suatu malam di sebuah warung padang.
Terlihat beberapa orang yang terlihat sedang mabuk (tercium dari bau-nya) dan memesan makanan, ada 3 orang paruh baya. Mereka dengan nada bicara kurang mengenakan, nada tinggi dan seolah meremehkan beberapa orang yang sedang antri membeli makanan. Ketika melihat gelagatnya mungkin beberapa orang akan tahu bahwa mereka termasuk apa yang sering masyarakat katakan sebagai "preman".
Setelah sesaat menunggu makanan diracik dan dibungkus mereka terlihat menyempatkan diri melihat acara tv yang tersedia di warung itu. Di layar TV sebuah adegan sinetron pertengkaran dengan tangisan sedang terjadi. Kemudian 2 dari 3 orang preman tadi bercakap"Loh...bukannya si A* udah cerai ama si C* trus ngapain balik ke isterinya lagi", "Dia cerai udah lama, Si A* aja yg bego..istri cantik gitu di tinggalin" timpal temannya.
What..!!!! sejenak saya kaget. Beberapa pria mabuk dengan tampang sangar, garang, mengkomentari sinetron dengan kalimat yang seolah dia tak terlewatkan satu episodepun.
Bukan maksudnya preman tak boleh nonton sinetron, hanya saja ketika preman yang notabene jarang dirumah saja bisa dengan fasih mengkomentari alur sinetron apalagi seorang ibu rumah tangga, tentu tidak semua ibu rumah tangga, juga tidak semua preman gandrung sinetron. Tapi dari peristiwa diatas ada gambaran betapa masyarakat kita tersita waktunya berjam-jam oleh cerita sinetron yang menurut saya tidak bermutu. Kalau itu terjadi pada Ibu rumah tangga itu bukan masalah tapi jika yang terjadi pada seluruh preman di indonesia.... kapan ada waktu buat mereka untuk mabuk dan malak....???
*( nama tokoh pada salah satu sinetron yang tidak saya kenal)
Terlihat beberapa orang yang terlihat sedang mabuk (tercium dari bau-nya) dan memesan makanan, ada 3 orang paruh baya. Mereka dengan nada bicara kurang mengenakan, nada tinggi dan seolah meremehkan beberapa orang yang sedang antri membeli makanan. Ketika melihat gelagatnya mungkin beberapa orang akan tahu bahwa mereka termasuk apa yang sering masyarakat katakan sebagai "preman".
Setelah sesaat menunggu makanan diracik dan dibungkus mereka terlihat menyempatkan diri melihat acara tv yang tersedia di warung itu. Di layar TV sebuah adegan sinetron pertengkaran dengan tangisan sedang terjadi. Kemudian 2 dari 3 orang preman tadi bercakap"Loh...bukannya si A* udah cerai ama si C* trus ngapain balik ke isterinya lagi", "Dia cerai udah lama, Si A* aja yg bego..istri cantik gitu di tinggalin" timpal temannya.
What..!!!! sejenak saya kaget. Beberapa pria mabuk dengan tampang sangar, garang, mengkomentari sinetron dengan kalimat yang seolah dia tak terlewatkan satu episodepun.
Bukan maksudnya preman tak boleh nonton sinetron, hanya saja ketika preman yang notabene jarang dirumah saja bisa dengan fasih mengkomentari alur sinetron apalagi seorang ibu rumah tangga, tentu tidak semua ibu rumah tangga, juga tidak semua preman gandrung sinetron. Tapi dari peristiwa diatas ada gambaran betapa masyarakat kita tersita waktunya berjam-jam oleh cerita sinetron yang menurut saya tidak bermutu. Kalau itu terjadi pada Ibu rumah tangga itu bukan masalah tapi jika yang terjadi pada seluruh preman di indonesia.... kapan ada waktu buat mereka untuk mabuk dan malak....???
*( nama tokoh pada salah satu sinetron yang tidak saya kenal)


0 Comments:
Post a Comment
<< Home