27 October 2009
13 August 2009
WS Rendra
Sajak Makna Sebuah Titipan ~ WS Rendra
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa :
sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”
~ WS Rendra
14 July 2009
Saya Warga Dunia
06 July 2009
Melengkapi Keinginan Tapi Tak Melengkapi Hidup

Kenapa aku bisa begitu terobsesi motor trail sejak kecil, mungkin karena saya di lahirkan di wilayah pegunungan, mungkin. Belum tercapai, hingga dalam ingatan masih selalu mengusik. Klx 150, light trail. Sepertinya cocok!

Bukanlah kamera ideal tapi terjangkau menurut saya, Ssambil mengendarai Klx 150, di dalam ransel akan saya bawa Nikon D60 ini untuk memotret kehidupan. Lengkaplah obsesi ini, Lets GO...!!!
Layaknya obsesi keponakan saya (usia berbeda obsesi boleh sama) apa salahnya...?
03 June 2009
Nurani, Hukum dan Korporasi
21 March 2009
Shalat Jum'at

Sejak kecil saya diwarisi tradisi oleh orang tua untuk melakukan shalat Jum’at dengan disiplin. Ketika orang tua mendapati saya melewatkannya sudah pasti akan mendapat wejangan yang serius (omelan). Bapak saya terutama, beliaulah yang paling tegas soal ini.
Dalam keyakinan agama saya yang saya ketahui, shalat Jum’at wajib hukumnya bagi laki-laki. Kenapa untuk laki-laki? Saat ini belum ada jawaban yang memuaskan bagi saya untuk pertanyaan ini, gender berlaku juga untuk urusan beribadah. Lupakan ini dulu.
Shalat Jum’at di kampung saya begitu menyenangkan, sebuah ritual yang saya rasakan sebagai perhelatan akbar dalam satuan minggu untuk menyembah Tuhan. Aktifitas apapun sebisa mungkin ditinggalkan untuk melaksanakan shalat Jum’at ini. Saya biasa harus mandi bersih dan segar, memakai wewangian menyandang busana yang bersih dan istimewa. Semua kawan, kerabat, tetangga berbondong bersama penuh suasana kekeluargaan. Itulah mungkin yang saya rasakan manfaat dari shalat Jum’at, sebuah fungsi ibadah sekaligus sosial. Ketika kita dari senin sibuk bekerja mencari nafkah atau urusan-urusan lain dan selalu bersifat hasrat duniawi, adakalanya kita memang harus “break” sejenak untuk melepaskan diri dari aktifitas duniawi. Pada shalat Jum’at di kampung benar-benar saya rasakan hal itu. Materi ceramah dari pemuka agama setempat menyampaikan ulasan-ulasan keagamaan dengan sederhana, masalah-masalah ringan tapi seringkali menentramkan, menyejukan bahkan mencerahkan. Ya, hanya masalah-masalah di sekitar kampung kita, tetapi mempunyai jangkauan reflektif yang luas dalam hati dan pemahaman saya. Setelah pulang Ibu sudah menyiapkan makan siang dan menunggu bersantap bersama. Sungguh mengesankan, sangat.
Sudah beberapa tahun ini tidak lagi shalat Jum’at di kampung, saat ini shalat Jum’at saya lakukan di
Tapi sudahlah, hal semacam itu sah-sah saja. Tentu tidak semua pidato seperti itu, pula tidak semua orang berasumsi seperti saya. Tapi memang seharusnya kita sendiri yang harus menentukan kapan harus “break” sejenak, tidak harus pada shalat Jum’at saja. Setidaknya di kota ini masih ada fungsi sosial yang menyenangkan, lagipula untuk beribadah kenapa saya harus cerewet seperti ini. Saya memang lagi mengomel tentang dunia. Beda tempat beda nuansa, di sini bukan di
13 June 2008
20:59 | 18:25
Sekitar pukul 20:59 Agus mulai dengan kebiasaanya, browsing, buka-buka email, chating di tempat kostnya. Tidak seperti biasanya , kost saat itu sepi. Baru setelah itu Firman dan Gandhi datang berboncengan motor yang terlihat kuyup kehujanan.
Agus menyapa dari pintu kamar, “ Man, hujan begini nekat lu?” sapa agus.
“ Kena air paling juga basah Gus” sahut Gandhi.
Hanya Agus di kost itu yang berbeda tempat kerja selain Firman, Gandhi, Wahyu dan Ahmad. Mereka satu tempat kerja di sebuah perusahaan telekomunikasi.
Setelah Agus menyapa, terlihat Firman dan Gandhi masuk kamar mereka masing-masing. Agus kembali ke kamar meneruskan browsing sembari nonton tv. Terlihat Firman membuka pintu kamar agus, menyusul Gandhi dibelakangnya “ Gus, lu ikut ke rumah sakit gak? Ahmad sama Wahyu tadi kecelakaan, sekarang di rumah sakit Pelni. “ Kecelakaan?! Kok lu gak bilang dari tadi Ndi? Beneran lu?” tanya Agus. “Gwa buru-buru Gus” jawab Gandhi.
Tanpa pikir dan tanya Agus bergegas, mereka bertiga berangkat. Agus membawa motornya sendiri sedangkan Firman dan Gandhi berboncengan.
Setelah sampai di rumah sakit mereka bertiga mencari kamar tempat Ahmad dan Wahyu dirawat. “ Gus, luh tolong tanyain kamarnya donk di depan, gwa tungguin di sini sama Gandhi, capek gwa muter-muter kehujanan” pinta Firman. Tanpa sadar pula Agus bergegas bertanya ke suster di tempat info pasien.
“ Mbak, maaf mau tanya pasien kecelakaan bernama Ahmad sama Wahyu dirawat dimana mbak? Tanya Agus. “ Sebentar ya mas, mas ini saudaranya?” tanya suster dengan senyum ringan. “ Saya temenya mbak, temen kostnya” terang Agus. “Begini saja mas, mas Agus nanti ketemu saja sama pak Supardi, dia polisi yang menangani kecelakaan tadi”. Tak lama pak Supardi datang, yang memang dari tadi memantau situasi ini. “ Kebeneran mas Agus, mas bisa mbantuin saya ngecek KTPnya”sahut pak polisi Supardi. Pak Supardi membuka-buka plastik hitam, terlihat di situ ada beberapa dompet dan selanjutnya terlihat berjumlah empat buah. “ Mas Agus, tadi saya sudah ngecek terus tak catet namanya mas, tapi mas Agus periksa lagi” terang pak Supardi dengan logat bahasa jawanya. “ Gusti Allah itu kalo sudah menggariskan takdirnya yo gak ada yang bisa menghalangi tho mas”. Mas Firman, Gandhi Wahyu dan mas Ahmad itu yo
Agus terdiam dan berkeringat, kalut pikiranya tak bisa di tuliskan disini, kenapa KTP itu ada empat. Agus berlari mencari Firman dan Gandhi di sudut ruang rumah sakit, tapi tak terlihat. Agus berlari ke tempat parkir motornya yang saat itu bersebelahan dengan motor Firman. Saat ini terlihat motor orang lain.
Malam itu juga pak Supardi menemani Agus melihat jasad keempat temannya di kamar mayat yang mengalami kecelakaan karambol karena berusaha menyalip sebuah bus antar
(cerita di atas fiktif belaka, bila ada kesamaan nama dan peristiwa hanyalah kebetulan semata)



