27 October 2009

Ikan Duyung Yang Berubah

13 August 2009

WS Rendra

Sajak Makna Sebuah Titipan ~ WS Rendra

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa :

sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”
~ WS Rendra

14 July 2009

Saya Warga Dunia

Sering kali bila saya menyimak online news di beberapa media di Indonesia seperti kompas, detik dll dan menyimak comment pada berita di bawahnya yang diisi oleh pembaca, dengan segera ketika termuat berita tentang sebuah prestasi atau peristiwa apapun dari negeri lain banyak tipikal comment yang cenderung membandingkan kondisi dengan Indonesia.

Sebagai contoh, berita seorang remaja AS umur 16 yang berlayar keliling dunia dengan kapal sendirian, kumudian comment menyusul "klo remaja indonesia bisanya tawuran", "mendingan duitnya buat kasih makan di Indonesia" dan lain-lainya. Ketika Korut uji coba rudal "Kapan pak SBY uji coba rudal", "kapan Indonesia seberani Korut". Relevankah tanggapan tadi? saya rasa tidak, hanya ekspresi emosional. Tak semuanya, tapi kebanyakan comment seperti tadi.

Mungkin ini sebuah bentuk ekspresi tentang kecintaan, nasionalisme, atau malah sebuah gejala depresi mental terhadap kondisi Indonesia yang tak kunjung membaik sehingga segala peristiwa dunia otak kita langsung memproses komparasi terhadap lingkungan tinggal kita. Saya juga orang yang tinggal di Indonesia dan warga negara Indonesia, tapi entah saya tak selalu ingin mengaitkan segala peristiwa dengan perspektif Indonesia baik secara sosial, politis apalagi psikologis kecuali jika relevan. Segala peristiwa yang terjadi di dunia adalah peristiwa manusia, dan saya berusaha selalu melihat dengan perspektif "Saya Adalah Warga Dunia".

06 July 2009

Melengkapi Keinginan Tapi Tak Melengkapi Hidup















Kenapa aku bisa begitu terobsesi motor trail sejak kecil, mungkin karena saya di lahirkan di wilayah pegunungan, mungkin. Belum tercapai, hingga dalam ingatan masih selalu mengusik. Klx 150, light trail. Sepertinya cocok!

















Bukanlah kamera ideal tapi terjangkau menurut saya, Ssambil mengendarai Klx 150, di dalam ransel akan saya bawa Nikon D60 ini untuk memotret kehidupan. Lengkaplah obsesi ini, Lets GO...!!!





Layaknya obsesi keponakan saya (usia berbeda obsesi boleh sama) apa salahnya...?

03 June 2009

Nurani, Hukum dan Korporasi

*Sebuah ocehan keprihatinan kasus yang menimpa Ibu Prita.

Kebutuhan kesehatan di Indonesia yang layak merupakan sesuatu yang masih menjadi impian rakyatnya. Seharusnya pemerintah lebih memberikan prioritas terhadap masalah ini. Kualitas kesehatan turut menentukan hasil sumber daya manusianya, jika rakyatnya sakit-sakitan tentu akan menghambat pembangunan. Jangankan kita bicara fasilitas dan infrastruktur kesehatan, untuk membeli obat yang terjangkau saja kita masih jauh dari harapan, ditambah lagi dengan berbagai kasus kekurangan gizi di beberapa wilayah di Indonesia. Sedikit menengok kabar saat ini, pemilu. Saya amati jarang sekali program kampanye partai maupun capres yang memberikan porsi layak pada masalah kesehatan. Rakyat kita sudah terbiasa menderita, memaklumi semua kondisi yang ada. 

Ibu Prita, seorang ibu 2 anak yang hingga saat ini masih dipenjara hanya karena menulis keluhan tentang pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Omni International dijerat dengan tuduhan pencemaran nama baik. Terlepas dari perdebatan materi hukum yang ada, saya hanya menangkap kesan betapa aroganya korporasi. Pihak Rumah Sakit hanya tidak terima bahwa lembaganya dikesankan dengan Rumah Sakit yang buruk dan bisa berakibat pada tingkat kepercayaan konsumen. Yang melatar belakangi tindakan RS Omni International adalah "uang" sedangkan latar belakang tindakan ibu prita adalah "nyawa" walaupun sebenarnya lebih dari sekedar itu, Ibu Prita menuliskan itu sebagai informasi dan berbagi pengalaman untuk tidak terjadi pada orang lain.

Para pemilik modal (korporasi) telah membuang nurani, hukum malah mencederai keadilan diantara kebobrokan dan kesemrawutan tatanan pemerintahan. Apa yang kita harapkan dari yang namanya "pemerintah" jika hak dasar saja tak bisa terjamin. Andai besok pagi saya terbangun dari tidur mendapati pemerintah telah bubar kemudian negara tiada, saya rasa tidak ada masalah dengan hidupku. Biasa saja. Sejatinya saya tak butuh pemerintah.
 
 

21 March 2009

Shalat Jum'at


Sejak kecil saya diwarisi tradisi oleh orang tua untuk melakukan shalat Jum’at dengan disiplin. Ketika orang tua mendapati saya melewatkannya sudah pasti akan mendapat wejangan yang serius (omelan). Bapak saya terutama, beliaulah yang paling tegas soal ini.

Dalam keyakinan agama saya yang saya ketahui, shalat Jum’at wajib hukumnya bagi laki-laki. Kenapa untuk laki-laki? Saat ini belum ada jawaban yang memuaskan bagi saya untuk pertanyaan ini, gender berlaku juga untuk urusan beribadah. Lupakan ini dulu.

Shalat Jum’at di kampung saya begitu menyenangkan, sebuah ritual yang saya rasakan sebagai perhelatan akbar dalam satuan minggu untuk menyembah Tuhan. Aktifitas apapun sebisa mungkin ditinggalkan untuk melaksanakan shalat Jum’at ini. Saya biasa harus mandi bersih dan segar, memakai wewangian menyandang busana yang bersih dan istimewa. Semua kawan, kerabat, tetangga berbondong bersama penuh suasana kekeluargaan. Itulah mungkin yang saya rasakan manfaat dari shalat Jum’at, sebuah fungsi ibadah sekaligus sosial. Ketika kita dari senin sibuk bekerja mencari nafkah atau urusan-urusan lain dan selalu bersifat hasrat duniawi, adakalanya kita memang harus “break” sejenak untuk melepaskan diri dari aktifitas duniawi. Pada shalat Jum’at di kampung benar-benar saya rasakan hal itu. Materi ceramah dari pemuka agama setempat menyampaikan ulasan-ulasan keagamaan dengan sederhana, masalah-masalah ringan tapi seringkali menentramkan, menyejukan bahkan mencerahkan. Ya, hanya masalah-masalah di sekitar kampung kita, tetapi mempunyai jangkauan reflektif yang luas dalam hati dan pemahaman saya. Setelah pulang Ibu sudah menyiapkan makan siang dan menunggu bersantap bersama. Sungguh mengesankan, sangat.

Sudah beberapa tahun ini tidak lagi shalat Jum’at di kampung, saat ini shalat Jum’at saya lakukan di kota tempat saya bekerja. Saya melakukan shalat Jum’at disela waktu bekerja, jarang sekali mandi sebelumnya, baju yang saya kenakan-pun baju kantor. Sebagian orang nampak berangkat  dengan tergesa, bahkan setengah berlari. Ceramahnya berbeda, suaranya intonatif tapi malah nampak dibuat-buat, terkadang berteriak menggelegar, melemah tiba-tiba (seolah orasi). Topiknya berat, lebih tepatnya memaksakan diri untuk selalu aktual dengan peristiwa atau isu saat ini, entah itu partai, pemilu, perang timur tengah sampai gosip artis tentunya dengan sedikit perspektif berbeda. Tak jarang melempar statemen politis dengan bahasa tafsir mereka, entah mewakili siapa? Pidatonya sangat duniawi, jadi serasa mendengar berita televisi atau koran pagi dengan bumbu-bumbu ayat dan hadits. Tak merasa ruang “break” seperti dulu ketika shalat Jum’at di kampung.

Tapi sudahlah, hal semacam itu sah-sah saja. Tentu tidak semua pidato seperti itu, pula tidak semua orang berasumsi seperti saya. Tapi memang seharusnya kita sendiri yang harus menentukan kapan harus “break” sejenak, tidak harus pada shalat Jum’at saja. Setidaknya di kota ini masih ada fungsi sosial yang menyenangkan, lagipula untuk beribadah kenapa saya harus cerewet seperti ini. Saya memang lagi mengomel tentang dunia. Beda tempat beda nuansa, di sini bukan di sana.

13 June 2008

20:59 | 18:25

Sekitar pukul 20:59 Agus mulai dengan kebiasaanya, browsing, buka-buka email, chating di tempat kostnya. Tidak seperti biasanya , kost saat itu sepi. Baru setelah itu Firman dan Gandhi datang berboncengan motor yang terlihat kuyup kehujanan.


Agus menyapa dari pintu kamar, “ Man, hujan begini nekat lu?” sapa agus.

“ Kena air paling juga basah Gus” sahut Gandhi.

Hanya Agus di kost itu yang berbeda tempat kerja selain Firman, Gandhi, Wahyu dan Ahmad. Mereka satu tempat kerja di sebuah perusahaan telekomunikasi.


Setelah Agus menyapa, terlihat Firman dan Gandhi masuk kamar mereka masing-masing. Agus kembali ke kamar meneruskan browsing sembari nonton tv. Terlihat Firman membuka pintu kamar agus, menyusul Gandhi dibelakangnya “ Gus, lu ikut ke rumah sakit gak? Ahmad sama Wahyu tadi kecelakaan, sekarang di rumah sakit Pelni. “ Kecelakaan?! Kok lu gak bilang dari tadi Ndi? Beneran lu?” tanya Agus. “Gwa buru-buru Gus” jawab Gandhi.


Tanpa pikir dan tanya Agus bergegas, mereka bertiga berangkat. Agus membawa motornya sendiri sedangkan Firman dan Gandhi berboncengan.


Setelah sampai di rumah sakit mereka bertiga mencari kamar tempat Ahmad dan Wahyu dirawat. “ Gus, luh tolong tanyain kamarnya donk di depan, gwa tungguin di sini sama Gandhi, capek gwa muter-muter kehujanan” pinta Firman. Tanpa sadar pula Agus bergegas bertanya ke suster di tempat info pasien.


“ Mbak, maaf mau tanya pasien kecelakaan bernama Ahmad sama Wahyu dirawat dimana mbak? Tanya Agus. “ Sebentar ya mas, mas ini saudaranya?” tanya suster dengan senyum ringan. “ Saya temenya mbak, temen kostnya” terang Agus. “Begini saja mas, mas Agus nanti ketemu saja sama pak Supardi, dia polisi yang menangani kecelakaan tadi”. Tak lama pak Supardi datang, yang memang dari tadi memantau situasi ini. “ Kebeneran mas Agus, mas bisa mbantuin saya ngecek KTPnya”sahut pak polisi Supardi. Pak Supardi membuka-buka plastik hitam, terlihat di situ ada beberapa dompet dan selanjutnya terlihat berjumlah empat buah. “ Mas Agus, tadi saya sudah ngecek terus tak catet namanya mas, tapi mas Agus periksa lagi” terang pak Supardi dengan logat bahasa jawanya. “ Gusti Allah itu kalo sudah menggariskan takdirnya yo gak ada yang bisa menghalangi tho mas”. Mas Firman, Gandhi Wahyu dan mas Ahmad itu yo wis takdirNya.


Agus terdiam dan berkeringat, kalut pikiranya tak bisa di tuliskan disini, kenapa KTP itu ada empat. Agus berlari mencari Firman dan Gandhi di sudut ruang rumah sakit, tapi tak terlihat. Agus berlari ke tempat parkir motornya yang saat itu bersebelahan dengan motor Firman. Saat ini terlihat motor orang lain.


Malam itu juga pak Supardi menemani Agus melihat jasad keempat temannya di kamar mayat yang mengalami kecelakaan karambol karena berusaha menyalip sebuah bus antar kota. Mereka meninggal di tempat kejadian (TKP). Kecelakaan itu terjadi saat hujan gerimis pada pukul 18:25.


(cerita di atas fiktif belaka, bila ada kesamaan nama dan peristiwa hanyalah kebetulan semata)