Panggung Penari Latar
Hampir di setiap pertunjukan musik di televisi Indonesia sering kita jumpai bermacam penari latar. Saya perhatikan diantaranya ada Batavia Dancers, Yukitanari Dancers dan lain-lainya, mungkin itu dalah nama perusahaan atau agen penyedia jasa para penari latar tersebut.
Penari latar yang saya maksud ini biasanya tampil ketika pertunjukan musik di televisi, apapun musiknya bisa dipastikan akan melihat lenggok-lompatan penari latar. Saking seringnya pertunjukan musik yang di kolaborasi dengan penari latar ini terkadang saya melihat ada komposisi kolaborasi yang terlalu di paksakan, ingin sekali saya menikmati performance musik sebuah band atau penyanyi sebagai musik itu sendiri tanpa diganggu lompatan, putaran, senyum lebar buatan, lari maju-mundur yang seringkali gerakanya monoton hanya kostumnya yang sering diganti.
Karena yang saya lihat ini di televisi tentunya ini ulah kameramen juga yang terkadang over expose pada dancer, sehingga saya bingung sedang nonton musik atau tari-tarian. Sekali lagi, karena ini di televisi tentunya saya maklum-maksum (maklum maksimal) pada fenomena joget panggung televisi Indonesia, karena di situ ada banyak peran modal dari Industri TV, Agen dancer, Persewaan kostum dll.
Tapi intinya saya tidak berselera melihat dancer yang terlalu dipaksakan pada sebuah pertunjukan musik atau tidak berselera melihat musik dinodai dancer. Rasanya seperti sarapan Soto trus kuahnya di cemplungi Es Batu, Mak Nyeeesss...
Penari latar yang saya maksud ini biasanya tampil ketika pertunjukan musik di televisi, apapun musiknya bisa dipastikan akan melihat lenggok-lompatan penari latar. Saking seringnya pertunjukan musik yang di kolaborasi dengan penari latar ini terkadang saya melihat ada komposisi kolaborasi yang terlalu di paksakan, ingin sekali saya menikmati performance musik sebuah band atau penyanyi sebagai musik itu sendiri tanpa diganggu lompatan, putaran, senyum lebar buatan, lari maju-mundur yang seringkali gerakanya monoton hanya kostumnya yang sering diganti.
Karena yang saya lihat ini di televisi tentunya ini ulah kameramen juga yang terkadang over expose pada dancer, sehingga saya bingung sedang nonton musik atau tari-tarian. Sekali lagi, karena ini di televisi tentunya saya maklum-maksum (maklum maksimal) pada fenomena joget panggung televisi Indonesia, karena di situ ada banyak peran modal dari Industri TV, Agen dancer, Persewaan kostum dll.
Tapi intinya saya tidak berselera melihat dancer yang terlalu dipaksakan pada sebuah pertunjukan musik atau tidak berselera melihat musik dinodai dancer. Rasanya seperti sarapan Soto trus kuahnya di cemplungi Es Batu, Mak Nyeeesss...


