20:59 | 18:25
Sekitar pukul 20:59 Agus mulai dengan kebiasaanya, browsing, buka-buka email, chating di tempat kostnya. Tidak seperti biasanya , kost saat itu sepi. Baru setelah itu Firman dan Gandhi datang berboncengan motor yang terlihat kuyup kehujanan.
Agus menyapa dari pintu kamar, “ Man, hujan begini nekat lu?” sapa agus.
“ Kena air paling juga basah Gus” sahut Gandhi.
Hanya Agus di kost itu yang berbeda tempat kerja selain Firman, Gandhi, Wahyu dan Ahmad. Mereka satu tempat kerja di sebuah perusahaan telekomunikasi.
Setelah Agus menyapa, terlihat Firman dan Gandhi masuk kamar mereka masing-masing. Agus kembali ke kamar meneruskan browsing sembari nonton tv. Terlihat Firman membuka pintu kamar agus, menyusul Gandhi dibelakangnya “ Gus, lu ikut ke rumah sakit gak? Ahmad sama Wahyu tadi kecelakaan, sekarang di rumah sakit Pelni. “ Kecelakaan?! Kok lu gak bilang dari tadi Ndi? Beneran lu?” tanya Agus. “Gwa buru-buru Gus” jawab Gandhi.
Tanpa pikir dan tanya Agus bergegas, mereka bertiga berangkat. Agus membawa motornya sendiri sedangkan Firman dan Gandhi berboncengan.
Setelah sampai di rumah sakit mereka bertiga mencari kamar tempat Ahmad dan Wahyu dirawat. “ Gus, luh tolong tanyain kamarnya donk di depan, gwa tungguin di sini sama Gandhi, capek gwa muter-muter kehujanan” pinta Firman. Tanpa sadar pula Agus bergegas bertanya ke suster di tempat info pasien.
“ Mbak, maaf mau tanya pasien kecelakaan bernama Ahmad sama Wahyu dirawat dimana mbak? Tanya Agus. “ Sebentar ya mas, mas ini saudaranya?” tanya suster dengan senyum ringan. “ Saya temenya mbak, temen kostnya” terang Agus. “Begini saja mas, mas Agus nanti ketemu saja sama pak Supardi, dia polisi yang menangani kecelakaan tadi”. Tak lama pak Supardi datang, yang memang dari tadi memantau situasi ini. “ Kebeneran mas Agus, mas bisa mbantuin saya ngecek KTPnya”sahut pak polisi Supardi. Pak Supardi membuka-buka plastik hitam, terlihat di situ ada beberapa dompet dan selanjutnya terlihat berjumlah empat buah. “ Mas Agus, tadi saya sudah ngecek terus tak catet namanya mas, tapi mas Agus periksa lagi” terang pak Supardi dengan logat bahasa jawanya. “ Gusti Allah itu kalo sudah menggariskan takdirnya yo gak ada yang bisa menghalangi tho mas”. Mas Firman, Gandhi Wahyu dan mas Ahmad itu yo
Agus terdiam dan berkeringat, kalut pikiranya tak bisa di tuliskan disini, kenapa KTP itu ada empat. Agus berlari mencari Firman dan Gandhi di sudut ruang rumah sakit, tapi tak terlihat. Agus berlari ke tempat parkir motornya yang saat itu bersebelahan dengan motor Firman. Saat ini terlihat motor orang lain.
Malam itu juga pak Supardi menemani Agus melihat jasad keempat temannya di kamar mayat yang mengalami kecelakaan karambol karena berusaha menyalip sebuah bus antar
(cerita di atas fiktif belaka, bila ada kesamaan nama dan peristiwa hanyalah kebetulan semata)


0 Comments:
Post a Comment
<< Home