Shalat Jum'at

Sejak kecil saya diwarisi tradisi oleh orang tua untuk melakukan shalat Jum’at dengan disiplin. Ketika orang tua mendapati saya melewatkannya sudah pasti akan mendapat wejangan yang serius (omelan). Bapak saya terutama, beliaulah yang paling tegas soal ini.
Dalam keyakinan agama saya yang saya ketahui, shalat Jum’at wajib hukumnya bagi laki-laki. Kenapa untuk laki-laki? Saat ini belum ada jawaban yang memuaskan bagi saya untuk pertanyaan ini, gender berlaku juga untuk urusan beribadah. Lupakan ini dulu.
Shalat Jum’at di kampung saya begitu menyenangkan, sebuah ritual yang saya rasakan sebagai perhelatan akbar dalam satuan minggu untuk menyembah Tuhan. Aktifitas apapun sebisa mungkin ditinggalkan untuk melaksanakan shalat Jum’at ini. Saya biasa harus mandi bersih dan segar, memakai wewangian menyandang busana yang bersih dan istimewa. Semua kawan, kerabat, tetangga berbondong bersama penuh suasana kekeluargaan. Itulah mungkin yang saya rasakan manfaat dari shalat Jum’at, sebuah fungsi ibadah sekaligus sosial. Ketika kita dari senin sibuk bekerja mencari nafkah atau urusan-urusan lain dan selalu bersifat hasrat duniawi, adakalanya kita memang harus “break” sejenak untuk melepaskan diri dari aktifitas duniawi. Pada shalat Jum’at di kampung benar-benar saya rasakan hal itu. Materi ceramah dari pemuka agama setempat menyampaikan ulasan-ulasan keagamaan dengan sederhana, masalah-masalah ringan tapi seringkali menentramkan, menyejukan bahkan mencerahkan. Ya, hanya masalah-masalah di sekitar kampung kita, tetapi mempunyai jangkauan reflektif yang luas dalam hati dan pemahaman saya. Setelah pulang Ibu sudah menyiapkan makan siang dan menunggu bersantap bersama. Sungguh mengesankan, sangat.
Sudah beberapa tahun ini tidak lagi shalat Jum’at di kampung, saat ini shalat Jum’at saya lakukan di
Tapi sudahlah, hal semacam itu sah-sah saja. Tentu tidak semua pidato seperti itu, pula tidak semua orang berasumsi seperti saya. Tapi memang seharusnya kita sendiri yang harus menentukan kapan harus “break” sejenak, tidak harus pada shalat Jum’at saja. Setidaknya di kota ini masih ada fungsi sosial yang menyenangkan, lagipula untuk beribadah kenapa saya harus cerewet seperti ini. Saya memang lagi mengomel tentang dunia. Beda tempat beda nuansa, di sini bukan di


1 Comments:
wah mulai ngeblog lagi niey..sip dah yanx..laff U so..blogku pa kabar ya ??
Post a Comment
<< Home